Cara Lengkap Dan Mudah Budidaya Jamur Tiram Putih – Jamur tiram dapat
tumbuh dan berkembang di media yang terbuat dari serbuk gergaji dikemas
dalam kantong plastik. Pertumbuhan jamur tiram sangat dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, kita perlu tahu tentang
kondisi yang cocok untuk pertumbuhan sebelum kita melakukan budidaya
jamur tiram.
16 Cara Lengkap Dan Mudah Budidaya Jamur Tiram Putih
Cara Budidaya Jamur Tiram Putih
Dalam kehidupan alami jamur ini tumbuh di hutan dan biasanya tumbuh
di bawah pohon berdaun lebar atau di bawah tanaman berkayu. Pleurotus
jamur tidak memerlukan banyak sinar matahari. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa miselium disimpan dalam ruang yang lebih redup, akan
lebih banyak jumlah di bandingkan di tempat terang sinar matahari penuh.
Miselium adalah jaringan yang mencakup koleksi hifa jamur. Miselium
dapat tumbuh di dinding sel kayu dengan menembus dinding sel kayu.
Proses penetrasi kayu dinding sel enzim dibantu oleh selulosa,
hemiselulosa, dan lignin yang dihasilkan oleh jamur melalui ujung benang
miselium. Enzim mencerna senyawa secara bersamaan menggunakan kayu
sebagai sumber (substansi) makanan.
Temperature Suhu
Serat miselium jamur tiram putih tumbuh dengan baik pada kisaran suhu
antara 23-28 ° C, yang berarti bahwa kisaran suhu normal untuk
pertumbuhan. Waluapun demikian, dengan suhu di bawah 23 ° C, miselium
jamur tiram putih masih bisa tumbuh meskipun lambat. Sedangkan
memerlukan lebih banyak waktu untuk pertumbuhan tubuhnya yang membentuk
seperti kerang, memerlukan kisaran suhu antara 13-15 ° C selama 2
samapai 3 hari.
Ketika nilai suhu rendah tidak diperoleh, maka ada dua
kemungkinan terjadi, yaitu pertumbuhan jamur tumbuh buah tidak akan
membentuk, yang berarti perawatan tidak berhasil, atau bahkan jika
terbentuk, waktu yang dibutuhkan akan lama. tetapi bagaimanapun tahap
kedua jamur tiram putih masih dapat tumbuh pada kisaran suhu 12-37,8 °
C.
Kelembapan
Kandungan air sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan
miselium jamur. Terlalu sedikit air akan menghasilkan pertumbuhan dan
perkembangan akan terganggu, bahkan berhenti sama sekali.
Namun, jika terlalu banyak air, miselium akan membusuk dan mati.
Kurangi kadar air di pabrik akan diperoleh baik saat menyiram. Jamur
tumbuh dengan baik di kondisi lembab, tetapi tidak ingin genangan air.
Oyster miselium jamur tumbuh optimal pada kurangi yang memiliki kadar
air sekitar 60%. Adapun merangsang pertumbuhan tunas dan tubuh buah,
membutuhkan kelembaban sekitar 70-85%.
Cahaya
Miselium jamur tiram putih tumbuh secara optimal dalam gelap.
Sebaliknya, tubuh buah jamur tidak dapat tumbuh dalam gelap. Cahaya
diperlukan untuk merangsang pertumbuhan tubuh buah. Jamur batang akan
tumbuh lebih kecil dan kap tumbuh tidak normal jika pertumbuhan saat
primordial tidak mendapatkan air.
Namun, sinar matahari melalui langsung dapat merusak dan menyebabkan
layu, serta ukuran yang relatif kecil dari tenda. Pertumbuhan jamur
hanya akan memerlukan cahaya untuk menyebar. Oleh karena itu, diperlukan
pohon peneduh di dekat gedung tempat jamur pemeliharaan.
Udara
Jamur tiram putih adalah tanaman saprofit fakultatif aerobic yang
membutuhkan oksigen sebangai senyawa untuk pertumbuhannya. Sirkulasi
udara yang lancer akan menjamin pasokan oksigen. Terbatasnya pasokan
oksigen udara disekitar tempat tumbuh jamur dapat mengganggu pertumbuhan
tubuh buah.
Jamur tiram juga yang tumbuh pada tempat yang kekurangan oksigen
memiliki tubuh buah kecil dan abnormal. Tubuh buah jamur yang tumbuh
pada tempat yang kekurangan oksisgen akan mudah layu dan mati. Jamur
tiram juga memerlukan sirkulasi udara segar untuk pertumbuhannya. Oleh
karena itu, harus diberi ventilasi agar pertukaran udara dapat berjalan
secara baik.
Pertumbuhan miselium jamur memerlukan kandungan karbon dioksida yang
agak tinggi, yaitu 15%-20%. Tetapi, jamur tiram yang tumbuh pada tempat
yang mengandung karbo dioksida yang terlalu tinggi memiliki tubuh buah
yang abnormal. Biasanya, tudung jamur tiram tumbuuh relative kecil
dibandingkan tangkainya.
Derajat Keasaman (pH)
Miselium jamur tiram putih tumbuh optimal pada pH media yang sedikit
asam, yaitu antara 5,0-6,5. Nilai pH medium diperlukan untuk produksi
metabolism dari jamur tiram putih, seperti produksi asam organic.
Kondisi asam dapat menyebabkan pertumbuhan miselium jamur tiram
terganggu, tumbuh kontaminasi oleh jamur lain, bahkan menimbulkan
kematian jamur tiram putih. Kondisi pH yang terlalu tinggi (basa), dapat
menyebabkan system metabolism dari jamur tiram putih tidak efektif.
Bahkan, menyebabkan kematian. Tubuh buah jamur tiram tumbuh optimal pada
pH lingkungdn yang mendekati normal (pH 6,8-7,0).
Cara Budidaya Jamur Tiram
Dalam budidaya modrn, media tumbuh yang digunakan berupa kayu tiruan
(log) yang dibuat dalam bentuk silinder. Komposisi media ini berupa
sumber kayu (gergaji kayu, ampas tebu), sumber gula (tepung-tepungan),
kapur, pupuk P, dan air.
Kebutuhan Nutrisi Jamur Tiram
Pertumbuhan yang optimal dapat dicapai bila lingkungannya sesuai
serta tersedia nutrisiyang cukup. Protoplas sel memerlukan nitrogen,
fosfor, dan nutrisi lai. Karbon selain diperlukan untuk pembentukan
protoplasma, juga diperlukan sebagai sumber energy. Sehingga karbon
lebih banyak dibutuhkan disbanding dengan nitrogen. Nitrogen dibutuhkan
untuk pembentukan asam nukleat. Sedangkan protein dan kitin diperlukan
untuk pembentukan dinding sel jamur.
Kehadiran Mikroorganisme lain
Media tempat tumbuh merupakan sumber energy utama bagi jamur tiram.
Kehadiran mikroorganisme lain dapat menyebabkan persaingan dalam
mendapatkan nutrisi, sehingga jamur yang diharapkan tidak dapat tumbuh
dengan optimal. Bahkan, sebagian dari competitor tersebut dapat
mengeluarkan senyawa yang bersifat toksin terhadap organism
disekitarnya. Sterilisasi media merupakan cara yang efektif untuk
membebaskan media tanam dari kehadiran jasad asing di dalam media tanam
yang tidak diharapkan.
Menyiapkan baglog
Baglog merupakan media tanam tempat meletakkan bibit jamur tiram.
Bahan utama baglog adalah serbuk gergaji, karena jamur tiram termasuk
jamur kayu. Baglog dibungkus plastik berbentuk silinder, dimana salah
satu ujungnya diberi lubang. Pada lubang tersebut jamur tiram akan
tumbuh menyembul keluar.
Pada usaha budidaya jamur tiram skala besar, petani jamur biasanya
membuat baglog sendiri. Namun bagi petani pemula, atau petani dengan
modal terbatas biasanya baglog dibeli dari pihak lain. Sehingga petani
bisa fokus menjalankan usaha budidaya.
Terdapat dua cara menyusun baglog dalam rak, yakni diletakkan secara
vertikal dimana lubang baglog menghadap ke atas. Dan secara horizontal,
lubang baglog menghadap ke samping.
Kedua cara ini memiliki kelebihan masing. Baglog yang disusun
secara horizontal lebih aman dari siraman air. Bila penyiraman
berlebihan, air tidak akan masuk ke dalam baglog. Selain itu, untuk
melakukan pemanenan lebih mudah. Hanya saja, penyusunan horizontal lebih
menyita ruang.
Sterilisasi Baglog
Sterilisasi baglog dilakukan dengan cara memasukkan baglog ke dallam
autoclave atau pemanas/steamer dengan suhu 121 derajat C selama 15
menit. Untuk mengganti penggunaan autoclave atau streamer, dapat
menggunakan drum dengan kapasitas besar atau mampu menampung sekitar 50
baglog dan dipanasi di atas kompor minyak atau dapat juga menggunakan
oven. Memang, sterilisasi baglog menggunakan drum memakan waktu lebih
lama, yaitu sekitar 8 jam, tetapi dianggap lebih menghemat biaya.
Setelah proses sterilisasi selesai, baglog kemudian didinginkan,
yakni dengan mematikan alat sterilisasi dan membiarkan suhunya turun
sedikit demi sedikit. Setelah proses pendinginan, baru kemudian
dilakukan penanaman bibit jamur.
Pembibitan
Bibit yang dapat digunakan adalah F3. Bibit ini dapat dibuat atau
diperoleh dari petani jamur yang s udah bisa membuat bibit bibit jamur.
Untuk membuat bibit sendiri, diperlukan alat dan bahan yang steril
karena proses ini sangat rentan terhadap kontaminasi. Sterilisasi
pembuatan bibit biasa menggunakan laminar flow atau transfer box.
Proses Penanaman Jamur Tiram
Serbuk gergaji dipilih dan dibersihkan. Bagian yang besar dan tajam dibuang karena dapat merusak plastic substrat.
Bahan yang sudah ada dicampur sesuai komposisi takaran dalam jolang /
baskom plastic. Aduk sampai merata, jangan sampai ada
gumpalan-gumpalan. Adapun bahan yang dicampurkan untuk menghasilkan 100
log adalah sebagai berikut :
- Serbuk gergaji atau ampas tebu halus 10,5 kg.
- Beri air secukupnya, dengan kandungan air 60% dan pHmedia diukur.
Campuran bahan dimasukan ke dalam plastic transparan dengan ukuran 20
x 35 cm dan tebal 0,5. Media harus dipadatkan agar terbentuk log yang
baik. Media yang bagus adalah kepadatannya merata. Jangan lupa, ujung
plastic bagian bawah ditusuk jari telunjuk supaya masak. Hal ini
dilakukan agar bahan yang dimasukkan dan dipadatkan bisa duduk posisinya
(tidak miring). Pengisian dilakukan tidak terlalu penuh, tapi disisakan
15 cm untuk memudahkan dalam mengikat.
Tiap log ditimbang beratnya, yaitu sebanyak 1,2 kg.
- Sisa ujung plastic ke dalam cincin dilipat keluar, lalu diikat mulut plastic tersebut dengan karet tahan panas.
- Tutup mulut log tersebut dengan kapaskemudian tutup lagi dengan kertas, lalu diikat lagi dengan karet.
- Dilakukan pengukusan terhadap log media selama 12 jam.
- Lamanya pengukusan dihitung setelah air di dalam drum mendidih.
- Setelah selesai pengukusan, media di angkat dari drum. Lalu, biarkan
selama 8 jam atau sampai dingin pada ruangan yang tertutup. Untuk
selanjutnya, dilakukan penanaman bibit.
Setelah media dingin, baru dilakukan penanaman bibit, caranya:
- Penanaman bibit dilakuan di ruangan tertutup.
- Semprot isi ruangan dengan alcohol 95%.
- Gunakan sarung sarung tangan dan semprot dengan alcohol 95%.
- Untuk memudahkan penanaman bibit, media yang akan diinokulasi disimpan di depan dekat tangan kiri.
- Bibit yang akan ditanamkan disimpan di depan dekat tangan kanan.
- Antara media yang akan ditanami dan bibit, disimpan lampu spirtus.
- Buka karet, kertas penutup, serta kapas penutup media.
- Masukkan 3 sendok makan bibit untuk satu log media.
- Setiap gerakan sendok yang dipakai, dipanaskan dengan api dari lampu spirtus.
- Media yang sudah ditanami bibit tersebut ditutup kembali dengan kapas.
- Penanaman bibit dikerjakan dengan cepat, tetapi harus teliti.
- Media yang sudah ditanami bibit disimpan di atas rak.
- Biarkan sampai seluruh media diisi miselium jamur.
- Miselium tumbuh memenuhi log media. Setelah seluruh log media
ditumbuhi miselium, tutup kapas dan cincin pada bagian atas log tersebut
dibuka.
- Kelembapan lingkungan dipertahankan dengan menyemprot menggunakan sprayer.
- Tubuh buah yang sudah cukup mekar dapat dipanen.
Perawatan Budidaya Jamur Tiram
Jika kita akan menyimpan log di dalam bangunan, masa tanam jamur
tiram tidak tidak diatur oleh kondisi iklim dan dapat dilakukan setiap
saat. Log yang sudah ditanami bibit harus disimpan di tempat yang
menunjang pertumbuhan miselium dan tubuh buah.
Bangunan untuk menyimpan log dapat dibuat permanen untuk budidaya jamur tiram skala besar atau di dalam bangunan semi permanen.
Tempat pemeliharaan jamur dibuat dengan ukuran 10 x 12 m² yang di
dalamnya terdapat 8 buah petak pemeliharaan berukuran 5,7 x 2,15 m².
jarak antara petak 40-60 cm. di dalam setiap petakan dibuat rak-rak yang
tersusun ke atas untuk menyimpan 1.300-1.400 log. Rangka bangunan dapat
dibuat dari besi, kayu atau bambu.
Log disimpan di atas rak dengan posisi tegak atau miring. Jarak
penyimpanan diatur sedemikian rupa sehingga tubuh buah yang tumbuh dari
log tidak tumpang tindih dengan tubuh buah yang lain.
Pengendalian Hama Penyakit Pada Budidaya Jamur Tiram
Selain pemeliharaan baglog, dalam budidaya jamur tiram juga perlu
dilakukan perawatan untuk mencegah atau mengendalikan hama dan penyakit
yang mungkin bisa menyerang jamur tiram. Hama dan penyakit yang
menyerang jamur tiram tentu dipengaruhi oleh keadaan lingkungan maupun
jamur itu sendiri. Sehingga antara tempat budidaya yang satu dan yang
lain, serangan hama penyakit kemungkinan dapat berbeda-beda.
Hama Penyakit Jamur Tiram
Ulat
Ulat merupakan hama yang paling banyak ditemui dalam budidaya jamur
tiram. Ada tiga faktor penyebab kemunculan hama ini yaitu faktor
kelembaban, kotoran dari sisa pangkal/bonggol atau tangkai jamur dan
jamur yang tidak terpanen, serta lingkungan yang tida bersih.
Hama ulat muncul ketika kelembaban udara berlebihan. Oleh sebab itu,
hama ulat sering dijumpai ketika musim hujan. Pencegahan menjadi solusi
terbaik untuk mengatasi hama ini adalah dengan mengatur sirkulasi udara.
Caranya dengan membuka lubang sirkulasi dan untuk sementara proses
penyiraman keumbung dihentikan.
Pangkal jamur yang tertinggal di baglog saat pemanenan dapat
menimbulkan binatang kecil seperti kepik. Kepik inilah yang menjadi
penyebab munculnya hama ulat. Sementara jamur yang tidak terpanen
kemungkinan terjadi karena jamur tidak muncul keluar sehingga luput saat
pemanenan dan menjadi busuk. Hal ini menyebabkan munculnya ulat.
Sebaiknya, ketika melakukan pemanenan baglog telah dipastikan
kebersihannya sehingga tidak ada pangkal atau batang dan jamur yang
tidak terpanen.
Ulat bisa saja muncul karena rumah kumbung ataupun sekitar kumbung
tidak berseih. Misalnya adanya kandang ternak atau tanaman di sekitar
rumah kumbung.
Untuk mencegah dan mengatasi serangan hama ulat, lakukan pembersihan
rumah kumbung dan sekitar rumah kumbung dengan melakukan penyemprotan
formalin.
Pemanenan Jamur Tiram
Ciri dan Umur Panen : Jamur tiram Pleurotus adalah jamur yang rasanya
enak dan memiliki aroma yang baik jika dipanen pada waktu umur muuda.
Panen dilakukan setelah tubuh buah mencapai ukuran maksimal saat 2-3
hari setelah tumbuh bakal tubuh buah.
Cara Panen : Pengambilan jamur harus dilakukan dari pangkal batang
karena batang yang tersisa dapat mengalami kebusukan. Potong jamur
dengan pisau yang bersih dan tajam, kemudian simpan di wadah plastic
dengan tumpukan setinggi 15 cm.
Periode Panen : Panen dilakukan setiap hari atau beberapa hari
sekali, tergantung dari jarak pembukaan log-log. Dari satu log akan
dihasilkan sekitar 0,8-1 kg jamur.